Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling Unnes Turut Berpartisipasi Kurangi Diskriminasi Pada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta

Kusta yang juga biasa dikenal dengan lepra adalah penyakit yang dapat menyebabkan lesi kulit dan kerusakan saraf, sehingga penyakit ini dapat menyebabkan kecacatan jika tidak ditangani dengan segera. Hal tersebut menjadi momok bagi orang yang pernah mengalami kusta karena kecacatan tersebut membuat mereka didiskriminasi, diasingkan dan disisihkan dari kehidupan bermasyarakat.

Awal agustus lalu, dua mahasiswa Bimbingan dan Konseling UNNES, Vrimadieska Ayuanissa Waluyan dan Khorido Hidayat, mengikuti kegiatan Work Camp yang diselenggarakan oleh Leprosy Care Community (LCC) Indonesia di Dusun Sumberglagah, Desa Tanjungkenanga, Kabupaten Mojokerto dan di Dusun Nganget, Desa Kedungjambe, Kabupaten Tuban. Selain di kedua kabupaten yang berada di Jawa Timur tersebut, kegiatan  Work Camp juga diadakan di Jawa Tengah yaitu di Kecamatan Donorojo, Jepara. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa yang berasal dari Indonesia saja, namun juga diikuti oleh mahasiswa dari Jepang yang datang ke Indonesia untuk mengikuti kegiatan Work Camp selama dua pekan.

(Kebersamaan Khorido Hidayat dengan Mahasiswa dari Jepang dan orang yang pernah mengalami kusta di Nganget.)

 

Kegiatan Work Camp memiliki main project untuk setiap lokasinya, “Di Nganget dan Donorojo main projectnya itu pembangunan untuk memperbaiki infrastruktur desa, sedangkan di Sumberglagah lebih ke sosialisasi tentang kusta keluar desa koloni kusta supaya masyarakat di luar sana enggak takut lagi sama kusta dan harapannya stigma negatif tentang kusta akan berkurang.” Jelas Vrimadieska. “Tapi selain main project itu kita juga ada kegiatan lain seperti home visit kerumah-rumah warga di desa koloni, kerja bakti, dan lain-lain.” Tambahnya.


(Kebersamaan Vrimadieska Ayuanissa Waluyan dengan orang-orang yang pernah mengalami kusta di Sumberglagah.)

“Selama 14 hari kami berusaha dekat dengan mereka seperti keluarga sendiri. Masak bersama, ke sawah, hingga bercerita mengenai pengalamannya” ungkap Khorido. “Banyak hal yang kami dapatkan ketika kami berusaha mendengarkan apa yang yang menjadi kisahnya.” Lanjutnya.

Kegiatan yang bertajuk “Spread love widely” ini telah rutin dilakukan dari tahun ke tahun bertujuan untuk memotivasi orang yang pernah mengalami kusta dan mengurangi diskriminasi dan stigma negatif yang tertanam pada orang yang pernah mengalami kusta.

“Sebenernya baru tahun ini kegiatan sosialisasi tentang kusta keluar, tahun-tahun sebelumnya belum pernah” ungkap Vrimadieska. “Diadakannya sosialisasi keluar ini untuk berbagi pengetahuan ke masyarakat juga sih kalo kusta itu walaupun menular tapi penularannya tuh enggak semudah itu loh enggak kayak flu, obatnya pun sudah tersedia di Puskesmas dan diberikan secara gratis.” Lanjutnya.

“Selain untuk merangkul dan memotivasi mereka yang pernah mengalami kusta, kegiatan ini diadakan juga untuk mengajak temen-temen masyarakat diluar sana agar mau beraktivitas bersama dan memperlakukan orang yang pernah mengalami kusta seperti masyarakat pada umumnya, karena walaupun mereka tidak sempurna secara fisik namun mereka tetap manusia yang harus kita hargai dan perlakukan dengan baik.” Khorido menambahkan sekaligus memberikan pernyataan penutup.

 

Tinggalkan Balasan