Guru yang berhenti belajar, harusnya juga berhenti mengajar (Reportase Seminar Nasional Bulan Pendidikan FIP UNNES)

seminar nasional bulan pendidikan fip 2017

Senin, 15 Mei 2017 Fakultas Ilmu Pendidikan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Menjadi Civitas Akademika Inspiratif untuk Mencetak Generasi Produktif di Era Kompetitif”. Dua Pembicara Nasional menjadi pusat dari seminar ini, yaitu Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed., Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Di samping itu, seminar ini dimoderasi oleh salah satu dosen muda FIP yaitu Edi Subkhan, M.Pd.

d

Prof. Komariddun Hidayat menjadi pembicara pertama dalam seminar ini. Beliau menghantarkan peserta seminar pada materi “Effective and Creative Teacher”. Dalam paparannya, adalah penting bagi guru untuk menjadi guru yang efektif dan kreatif. Hal itu adalah rumus bagi guru untuk menghadapi perubahan Era yang lebih komunikatif  dengan dicirikan oleh intensifikasi teknologi informasi dalam berbagai lini kehidupan. Era dimana hanya membutuhkan beberapa detik untuk berkirim message dari Jakarta ke London, Era yang cukup untuk menyimpan ribuan buku dalam flashdisk seukuran jari kelingking daripada perpustakaan, sebuah era yang menghubungkan berbagai orang di berbagai penjuru negara melalui media sosial. Perubahan era tersebut memunculkan implikasi dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.

e

Suatu era/ zaman, diikuti oleh munculnya suatu generasi sebagai anak zaman. Anak zaman komunikasi biasa disebut generasi millenial: yaitu generasi yang lekat dengan gadget, terkoneksi dengan orang lain melalui media sosial, mempelajari banyak hal namun tidak mendalam, dan dapat melakukan berbagai hal dalam satu waktu (multitasking). Karakteristik generasi millenial tersebut perlu direspon oleh guru. Mau tidak mau, suka tidak suka, guru wajib untuk secara kreatif meng-updrade metode pembelajarannya agar efektif untuk diterapkan pada generasi millenial.

cc

Gong Seminar ini ditandai oleh materi yang disampaikan Prof. Tilaar dalam makalah bertema “Revolusi Industri ke-4 dan Profesi Guru”. Menurut beliau, dunia sekarang ini tengah dalam masa megachange karena adanya revolusi industri ke-4. Pada pokoknya, dalam revolusi industri ke-4 adalah teknologi baru yang menyatukan fisik, digital, dan biologis sehingga teknologi baru tersebut mempengaruhi semua disiplin, ekonomi, dan industri. Kesemuanya itu terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Misalnya, material Nano lebih kuat 200 kali dibanding baja serta seper-sejuta lebih tipis dari rambut manusia serta revolusi dalam transplantasi hati dengan percetakan 3D.

b

Menurut beliau, kemajuan teknologi dilahirkan oleh manusia dan ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri. Disinilah letak nilai-nilai etis dalam proses pendidikan yang dapat memupuk dan mengembangkan nilai-nilai etis dalam kehidupan bersama. Namun ada kecenderungan dalam proses megachange tersebut, teknologi berposisi sebagai subyek sedangkan manusia diposisikan sebagai obyek. Dengan kata lain, manusia menjadi obyek demi terjadinya kemajuan teknologi, bukan sebaliknya: kemajuan teknologi demi kebahagiaan manusia. Dalam perspektif ini, kecenderungan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai etis di atas.

f

Guru dan pendidikan, menurut Prof. Tilaar, memiliki posisi strategis dalam merubah paradigma perubahan. Kecenderungan yang hari ini secara luas terjadi harus dibalik: Dari arus perubahan yang semula menempatkan teknologi sebagai subyek, menjadi manusia yang berposisi sebagai subyek perubahan -teknologi untuk kebahagiaan manusia. Dengan kata lain, guru menjadi gerakan change makers. Gerakan guru sebagai change makers ini menjadi sangat urgent bagi perubahan akibat revolsi industri ke-4 agar, manusia tidak menjadi komoditas bagi kemajuan teknologi, namun sebaliknya, teknologi yang menjadi komoditas bagi kebahagiaan hidup manusia.

f (2)

Lantas bagaimana gerakan dari praksis tersebut? Dalam makalahnya, Prof. Tilaar menekankan pentingnya penguasaan teknologi informasi bagi guru. Disamping itu, Guru wajib mengambangkan diri menjadi pribadi pembelajar. Karena “guru yang berhenti belajar, harusnya juga berhenti mengajar”. Begitu pungkas Prof. Tilaar dalam pemaparannya.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *